Fawaid Ilmiah & Manhajiyyah dari Umrah Asatidzah (2)


بسم الله الرحمن الرحيم

Fawaid Ilmiah dan Manhajiyyah

Dari Pertemuan dengan Masyaikh Ahlus Sunnah

Dalam kesempatan Umroh Rabiuts Tsani 1435H/ Januari-Pebruari 2014

oleh al-Ustadz Muhammad Afiffuddin hafizhahullah

Bagian kedua (selesai)
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله و الصلاة و السلام على رسول الله و على آله و صحبه و من والاه، أما بعد :
Ikhwani fiddin ‘azzakumullah telah disampaikan pada majelis yang lalu ringkasan jalsah berasama asy-Syaikh al-‘Allamah Rabi’ bin Hadi al-Madkhali yaitu beliau belum mencabut tahdzir terhadap al-Ustadz Dzulqarnain sampai nampak kejujuran taubatnya.

Pertemuan dengan asy-Syaikh DR. Muhammad bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah
Alhamdulillah dengan segala karuniaNya Allah telah memberikan taufik kepada kita untuk jalsah khusus bersama al-‘Allamah asy-Syaikh Muhammad bin Hadi al-Madkhali di kediaman beliau. Jalsah tersebut dihadiri oleh banyak Asatidzah dan ikhwah Ahlussunnah yang kesemuanya adalah orang Indonesia, diantaranya al-Ustadz Luqman Ba’abduh, al-Ustadz Usamah Mahri, al-Ustadz Qomar Suaidy, al-Ustadz ‘Askari, al-Ustadz Abdus Shomad Bawazier, al-Ustadz Muhammad Sarbini, al-Ustadz Ayip Syafruddin, al-Ustadz Ahmad Khodim, saya sendiri (al-Ustadz Muhammad Afiffuddin), al-Akh Nauvel bin ‘Ali Balbed, al-Ustadz Hasan Rosyid asal Kendari, al-Ustadz Abdurrahim asal Pangkep, al-Akh Abdul Mu’thi asal Balikpapan, al-Akh Arsyad asal Makassar, dan banyak ikhwah mahasiswa Jami’ah al-Islamiyah Madinahyang lainnya. Jalsah tersebut berlangsung begitu panjang dengan durasi hampir satu jam lebih.
Belum sampai kita menyampaikan poin-poin permasalahan dakwah di Indonesia tekait dengan Ustadz Dzulqarnain, asy-Syaikh Muhammad al-Madkhali menimpali:
أما ذو القرنين فقد انكسرت قرناه منذ زمان
Adapun Dzulqonnain, telah patah tanduknya sejak lama
Sehingga kita tidak perlu panjang lebar berbicara tentangnya karena sudah dikenal kejelekannya oleh asy-Syaikh Muhammad bin Hadi al-Madkhali.
Kita pun menyampaikan hasil jalsah kita bersama asy-Syaikh Rabi’, beliau juga menyatakan untuk mencukupkan dengan apa yang disampaikan oleh asy-Syaikh Rabi’.
Pertemuan dengan asy-Syaikh DR. ‘Abdullah bin ‘Abdurrahim al-Bukhari hafizhahullah
Begitu pula pernyataan asy-Syaikh Muhammad al-Madkhali sama dengan pernyataan asy-Syaikh Abdullah bin ‘Abdurrahim al-Bukhari ketika jalsah bersama beliau di masjid tempat beliau mengimami sholat. Ketika kita menyampaikan permasalahan terkait Dzulqarnain, beliau menghentikan kami agar jangan berpanjang lebar membicarakannya. Beliau berkata tentangnya (yang artinya):
Urusan Dzulqarnain tidak akan selesai karena dia memiliki dua tanduk
Beliau sudah memiliki banyak pengetahuan tentang kejelekan Dzulqarnain karena dia telah dikenal kejelekannya oleh asy-Syaikh Abdullah al-Bukhari.
Maka, permasalahan yang berkaitan dengan tahdzir terhadap Dzulqarnain, tetap sebagaimana semula bahwasannya dia La’aab, Mutalawwin, berjalan di atas manhaj al-Halaby dalam melancarkan makarnya. Tahdzir tersebut tetap berlangsung dengan segala konsekuensinya. Barulah dicabut apabiladia mau jujur bertaubat dengan cara yang ma’ruf dikenal oleh para ulama. Ditambah lagi jarh (cercaan) dari asy-Syaikh Muhammad bin Hadi al-Madkhali dan asy-Syaikh Abdullah al-Bukhari (yang dengan itu) semakin jelaslah bahwa Dzulqarnain adalah seorang yang jelek sehingga tidak pantas untuk diambil ilmunya, tidak pula dihadiri muhadhoroh-muhadhorohnya, juga tidak  diundang di majelis-majelis ta’lim Ahlussunnah sampai dia bertaubat. Ini konsekuensi dari jarh syadid (cercaan keras) para ulama diatas terhadapnya.
Pertemuan dengan asy-Syaikh DR. Muhammad bin Ghalib hafizhahullah
Adapun berita yang disebarkan di kalangan ikhwan tentang asy-Syaikh Muhammad bin Ghalib al-‘Adni (yang menyatakan – karena ketidaktahuan beliau – tahdzir asy-Syaikh Rabi’ telah dicabut), maka kami mengklarifikasi hal tersebut. Kami bertemu secara khusus pula dengan beliau di  kediamannya. Beliau menyatakan bahwasannya masalah apalagi yang tersisa setelah taubatnya Dzulqarnain. Surat asy-Syaikh Hani’ yang kedua telah dikeluarkan. Surat tersebut menjelaskan rujuk dan taubatnya Dzulqarnain, maka tidak mungkin tahdzir terus dilangsungkan. Berdasarkan kabar dari Makassar, al-Ustadz Askari angkat bicara serta menyajikan bukti-bukti kepada asy-Syaikh Muhammad bin Ghalib bahwa Dzulqarnain belum bertaubat. Dzulqarnain menyatakan bahwa dia merasa dirinya tidak bersalah sehingga harus bertaubat darinya. Di akun BBM(Black Berry Massenger) miliknya, dia menyatakan:
Termasuk keajaiban dunia ketika seseorang dikatakan bersalah namun dia tidak mengetahui apa kesalahannya. Dikatakan kepadanya dia harus bertaubat akan tetapi dia tidak tahu harus bertaubat dari kesalahan yang mana
Kita juga membacakan ucapan syukur Dzulqarnain ketika asy-Syaikh Rabi’ mentahdzirnya kepada asy-Syaikh Muhammad bin Ghalib. Di bagian akhirnya dia menuduh para ikhwah –yaitu para Asatidzah- telah menyampaikan kabar dusta kepada asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah. Beliau pun tertegun mendengar keterangan-keterangan tersebut. Lalu kita sajikan bukti-bukti lainnya. Akhirnya beliau tidak berani lagi menyatakan bahwa segala urusan tentang tahdzir terhadap Dzulqarnain telah tercabut dan termansukh. Juga, kami sampaikan pernyataan asy-Syaikh Rabi’ al-Madkhali yang tidak mencabut tahdzir darinya serta mempersyaratkan taubat yang jujur. Sampai di akhir majelis, beliau angkat tangan terhadap orang ini, beliau tidak tahu lagi bagaimana cara menghadapinya. Pernyataan asy-Syaikh Muhammad bin Ghalib diatas, dicabut oleh beliau. Maka, keterangan beliau tersebut tidak bisa dijadikan hujjah.
Pertemuan dengan asy-Syaikh Hani bin Buraik hafizhahullah
Berikutnya berkaitan dengan asy-Syaikh Hani’ bin Buraik. Acara muhadhoroh telekonferensi bersama beliau, yang di acara tersebut dengan tegas beliau menyatakan semua permasalahan tahdzir asy-Syaikh Rabi’ telah selesai dengan rujuknya Dzulqarnain dan turunnya surat kedua dari beliau yang tidak boleh dita’wil-ta’wil dan tidak ada pula syarat-syarat tertentu. Mereka menyebarluaskan pernyataan asy-Syaikh Hani’ tersebut seluas-luasnya. Alhamdulillah kami diberi kesempatan untuk bertemu dengan beliau di hari Jumat sebelum kami pulang. Sebelum bertemu dengan kami, rupanya beliau bertemu dengan asy-Syaikh Rabi’. Asy-Syaikh Rabi’ menyatakan kepada asy-Syaikh Hani’ bahwasannya beliau belum mencabuttahdzir dari Dzulqarnain serta mempersyaratkan taubat yang jujur kepadanya. Asy-Syaikh Hani’ datang kepada kami dan mengatakan:
Kalian berjalanlah sebagaimana yang dikatakan oleh asy-Syaikh Rabi’ kepada kalian dan aku bersama kalian . Tahdzir  asy-Syaikh Rabi’ tetap berjalan. Adapun apa yang saya katakan dalam telekonferensi di Depok kemarin semuanya terhapus berdasarkan keterangan dari asy-Syaikh Rabi’ 
Maka dari itu, ucapan asy-Syaikh Muhammad bin Ghalib dan asy-Syaikh Hani’ bin Buraik sebelumnya tidaklah bisa dijadikan pegangan. Semua permasalahan telah jelas sehingga tidak boleh ada lagi ta’ashub(kefanatikan), saling debat dan berseteru dalam hal ini. Tidaklah perlu merasa kehilangan karena akan ada orang-orang lain semisal Dzulqarnain atau orang yang lebih dari dia serta lebih bermanfaat dan tidak membahayakan. Begitupula dengan orang-orang di sekitar Dzulqarnain, jika mereka jujur maka mereka harus berlepas diri pula darinya, dari berbagai permainannya, dan dari semua makarnya, sampai dia bertaubat dengan jujur. Jika memang mereka menginginkan kebaikan maka, hendaknya mereka membantunya untuk bertaubat. Akan tetapi, jika mereka tetap ta’ashub terhadapnya, mereka kelak akan digabungkan dengannya. Saat ini para Masyaikh di atas, jika mengetahui seseorang bersama Dzulqarnain, mereka menghukumi orang tersebut sama dengan Dzulqarnain. Sekali lagi ini bukanlah taqlid (sikap membebek), akan tetapi ini adalah sikap syar’i, kembali kepada para ulama ketika terjadinya fitnah dan termasuk bab qobul khobar ats-tsiqoh (menerima kabar dari orang yang terpercaya).
Faidah-Faidah Ilmiyyah Manhajiyyah Lainnya
Banyak sekali faedah yang saya dapatkan dari asy-Syaikh Muhammad bin Hadi al-Madkhali baik ketika jalsah umum ataukah jalsah khusus di rumah beliau.
1. Beberapa faedah diantara sekian banyak faedah (oleh-oleh umroh) yang bisa kami sampaikan di sini adalah perkataan beliau yang beliau sampaikan ketika jalsah umum:
يا أخي إذا كنت على الحق لا تخف
Wahai saudaraku, jika kamu diatas al-Haq, janganlah kau takut
2. Faedah lainnya adalah ucapan beliau ketika ditanya tentang ar-radd ‘ala al-mukholifin (bantahan terhadap orang yang menyelisihi)-yang artinya-:
Orang-orang yang menyelisihi bertingkat-tingkat keadaannya. Sekarang banyak muncul kalimat politis yang lentur (maknanya bercabang). Lalu, kenapa kalian mengatakan rad ‘ala al-mukholifin (bantahan terhadap orang yang menyelisihi)? Katakanlah rad ‘ala ahlil ahwa wal bida’ (bantahan terhadap pengekor hawa nafsu dan ahlil bid’ah)
3. Faedah lainnya adalah penjelasan bantahan terhadap orang yang menjadikan kalimat kufur yang terucap oleh ‘Ammar bin Yasir akibat siksaan sebagai hujjah atas kalimat menyimpang yang ia ucapkan dengan alasan terpaksa. Beliau membawakan kisah panjang terkait hal di atas sampai pada poin seseorang berhujjah dengan kisah ‘Ammar bin Yasir tersebut atas kalimat menyimpang yang ia ucapkan dengan alasan terpaksa. Dibacakanlah firman Allah:
Artinya: “Kecuali siapa saja yang dipaksa dalam keadaan hatinya tenang di atas keimanan” (QS an-Nahl: 106)
Lalu orang tersebut ditanya: “Apakah anda dalam keadaan terpaksa?”. Dibawakanlah kisah al-Imam Ahmad yang kokoh nan tegar di atas as-Sunnah walaupun menghadapi ujian berat dan berbagai siksaan, gangguan, dan cobaan.
4. Ketika di jalsah khusus kami menyampaikan permasalahan Firanda yang menyatakan bahwasannya asy-Syaikh Rabi’ al-Madkhali memiliki pemikiran Khawarij. Beliau pun mendoakannya:
قبّحه الله
Semoga Allah menjelekkan wajahnya
5. Berikutnya beliau menanyakan perihal Hajuriyyun di negeri ini. Kami mengatakan bahwasannya mereka sebagaimana yang dulu akan tetapi, saat ini tidak terdengar lagi suara mereka. Beliau juga mendoakan mereka:
زادهم الله القلة
Mudah-mudahan Allah menambahkan kesedikitan pada mereka
6. Kami juga menyampaikan tentang ucapan yang menyatakan bahwa bantahan terhadap ahlul bid’ah cukup (dibahas) hanya seperempat jam saja sambil berlalu jalannya muhadhoroh. Beliau membantahnya:
هذا الكلام غير صحيح
Ucapan tersebut tidaklah benar
Beliau juga menambahkan bahwa ucapan semisal ini menggembosi prinsip tahdzir dan itu adalah ucapan Ibrohim ar-Ruhaily atau ucapan orang yang mengadopsi pemikirannya. Orang yang mengucapkan dengan ucapan tersebut adalah orang yang tidak mengetaui sejarah Salaf ash-Sholih. Ucapan semisal itu juga menyebar di kalangan Salafiyyun di negeri ini.
6. Demikian pula ketika kami bermajelis dengan asy-Syaikh Abdullah al-Bukhari dan menyampaikan perihal Dzulqarnain, disamping beliau menyatakan masalah terkait Dzulqarnain tidak akan selesai karena ia memiliki dua tanduk, beliau juga menyatakan bahwa kejelekan-kejelekan orang  yang suka main-main dalam dakwah dan warna-warni semisal Dzulqarnain akan nampak di kemudian hari, Insya Allah. Dan banyak hal-hal lain yang tidak mungkin dibahas dan dibuka di majelis ini.
(selesai)
Disusun oleh Tim http://miratsul-anbiya.net
Dari Kaset Muhadharah yang disampaikan oleh al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Telah dibaca dan diizinkan penyebarannya oleh beliau hafizhahullah

0 komentar:

Pilih Name/URL untuk berkomentar, Cukup masukkan Nama tanpa memasukkan apa-apa di URL